Suami Juga Orangtua Dari Anak Kita…

peran-ayah-dalam-mendidik-a

Suami Juga Orangtua Dari Anak Kita…

Suami Juga Orangtua Dari Anak Kita

 

ayah dan anak

TerKadang, kita suka mikir kalau kita itu sebagai perempuan dan ibu memang sering banget membuat drama dan menciptakan penderitaan untuk diri sendiri. Tapi tidak semua ibu atau perempuan didunia seperti ini. Ada beberrapa diantara mereka yang terlihat tegar tapi dalam hati dan pikiran mereka sedang terpuruk atau sedih. Itulah menjadi kelebihan seorang perempuan.
Misalnya ada istri yang tidak suka terhadap suami yang kurang perhatian kepada anak-anaknya, dan semua dilakukan oleh seorang istri. Tapi sebenarnya, nggak jarang istrilah yang menciptakan kondisi ini, dengan nggak percaya kalau meninggalkan anak-anak dengan ayah mereka. Dengan keberatan kalau meninggalkan anak-anak bersama ayahnya dan menghabiskan quality time-nya bersama anak-anak, dan sejuta kehawatiran lainnya.
Jika anak telat makan dikit, langsung marah, anak diajak main game  lewat dari batas waktu yang ditentukan, nanti kan si anak kecanduan main game dan belajarnya terhambat, memberi anak makanan fastfood atau makanan yang tidak bergizi, ini akan menghambat tumbuh kembangnya kesehatan anak dan yang namanya seorang ibu hawatir kalau anaknya sampai jatuh sakit, dan yang repot juga pasti sang ibu.
Memang sih itu hanya bisa dilakukan oleh sang ayah yang tidak sedikit pandai mengurus anaknya, tetapi tidak semua ayah berperilaku seperti itu juga. Faktanya sang anak lebih dekat kepada sang ibu, karena itu sebagai ibu cenderung merasa kalau dirinya yang paling tahu apa yang terbaik untu anaknya, kitalah para ibu yang paling paham apa yang di diinginkan oleh anak kita.
Seperti kata seseorang  “Suami kamu itu juga adalah orangtua dari anak-anakmu”. So, biarkan suami anda mengajarkan nilai-nilai yang dia anut atau disampaikan ke anak-anak tanpa harus kamu kritik dan omeli sehingga anak dapat berbagai ilmu dari kedua orangtuanya. Menjadi orangtua itu butuh kerjasama. Butuh melihat dari perspektif yang berbeda. Selama apa yang dia ajarkan sang ayah tidak membahayakan nyawa anak-anak, ya lebih baik biarkan saja. Perasaan cemburu pasti ada di benak sang ibu ketika anak-anak dekat dengan ayahnya, tetapi memang itulah cara terbaik untuk mereka belajar dengan ayahnya, biarkan mereka bersenang bersama.
Mungkin ada feeling seorang ibu yang ketika ibu pergi dengan urusanya, dan anaknya beralih ke tangan ayahnya atau diurus ayahnya, pasti ada pikiran yang tidak enak atau khawatir kalau suaminya tidak bisa mengurus anaknya dengan baik dan benar, takut kalau suami tidak bisa menggantikan popok anaknya atau lain sebaginya, mungkin perasaan ini muncul pada seorang ibu. Dan seharusnya ini semua jangan sampai kita khawatirkan dengan berlebihan, pasti suami anda juga mengerti kok, dan dia juga pasti pernah melihat istrinya mengurus anaknya.
Kita mengambil intinya, kita sebagai seorang istri / ibu tidak salah kalau jika punya keinginan agar anak-anak dekat sama kita, karna kita ibunya, tetapi yang salah kalau kita menganggap suami kita itu sebagai saingan kita. Semua ini akan ada hasil


 
“Nggak salah, punya keinginan agar anak-anak dekat sama kamu, karena kamu memang ibunya. Sudah seharusnya mereka dekat sama kamu. Tapi yang salah itu kalau kamu menganggap ayah mereka sebagai ‘saingan’ kamu. Bukannya akan lebih menyenangkan kalau anak-anak bisa dekat dengan kedua orangtuanya? Trust yourself and trust your partner,” kalimat penutup dari mama saya waktu saya curhat dulu.
Dari situ saya mulai mengubah perilaku dan pola pikir saya. Hasilnya memang jadi lebih menyenangkan sih. Saya nggak terlalu stress, punya cukup waktu untuk melakukan me time, suami saya juga lebih tahu tentang apa yang terjadi pada anak-anak dan intinya, kami menjadi orangtua yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: