Antara Gengsi dan Nikah Modal Cinta

Cinta

Antara Gengsi dan Nikah Modal Cinta

Antara Gengsi dan Nikah Modal Cinta

By Anonymous

Banyak anak muda yang bilang mereka ingin segera menikah secepat mungkin. Namun bagaimana kalau yang mereka hanya bermodalkan cinta?


A : “Don’t you want get married?”
G : “Nope. Not a chance. I don’t see the value of it”
A : “Why? Everybody got married. Why you didn’t want?”
G : “Ok, I tell you what. Sell me marriage. Sell me some words why I should married. Tell me something about what I can get in marriage”

 

Dialog di atas diambil dari film Up In The Air, salah satu film favorit saya. Dan dialog di atas menurut gua unik : menyadarkan gua yang sebelumnya engga sadar kalau ternyata ada orang yang ga setuju dengan konsep sebuah pernikahan. Bahkan sampe berani menantang dan bilang “Sell me marriage”

Bener loh, dipikir-pikir proses menciptakan sebuah pernikahan ini merupakan suatu yang boros. Menyewa gedung resepsi mahal, belum catering, belum tetek bengek lainnya, dan belum syarat mertua yang kadang bikin ga bisa nafas. Apa sebenarnya yang membuat sebuah pernikahan begitu terlihat mahal dan menakutkan?

Didorong Mimpi dan Tradisi Gengsi

Pada awal umur 20an, sebagian perempuan mulai berusaha untuk mewujudkan impiannya untuk nikah muda. Dan entah kenapa, di Indonesia nikah muda menjadi salah satu standar kehebatan suatu pasangan. Mereka yang berhasil menikah muda dengan ‘normal’ dianggap sebagai pasangan yang sukses dalam menjalin hubungan, dan menjadi standar tolak ukur pasangan lainnya.

Hal ini menyebabkan budaya turun-temurun dimana nikah muda menjadi salah satu mimpi yang paling di idam-idamkan bagi kebanyakan wanita. Mereka bermimpi bisa menikah muda dengan pasangannya, lengkap dengan fantasi sebuah pernikahan yang romantis dan ideal.

Maka tidak salah kalau kebanyakan orang menganggap menikah merupakan wish fulfillment mereka, perwujudan dari mimpi mereka. Orang-orang ini sangat yakin hidupnya akan segera lebih baik dan lebih indah jika menikah dengan cepat.

Dan efek dari semua itu diperbesar dengan tradisi ini : “Kapan nikah?”

2 kata yang biasanya sangat-sangat digemari oleh orang tua yang kepo dengan kehidupan anak atau keponakannya. Mereka bertanya dengan sangat mudah dan sangat enteng tentang sesuatu hal yang mungkin bakal menjadi keputusan terpenting seseorang. Ga semua orang tua seperti ini, cuman orang tua yang mungkin terlalu peduli dengan kehidupan anak nya.

Tidak sekali dua kali, mereka biasa bertanya ini setiap kali bertemu, dan bahkan terkesan menyudutkan dan mendorong-dorong supaya cepat nikah. Hayo ngaku, kamu pasti pernah mendengar kan teman yang mengeluh selalu di sindir kapan nikah? Atau jangan-jangan, kamu juga seperti ini?

Ya, para anak muda yang mungkin masih mencari jati diri ini merasa dikejar tradisi. Tradisi lama yang menganggap bahwa pernikahan adalah sesuatu yang harus dilakukan secepat mungkin. Beruntung jika sudah punya pasangan yang siap dan mau menikah, lah kalau tidak? Ya cuman bisa telen ludah setiap kali ditanya hal ini.

Lupa Dengan Tujuan Utama

Cinta

Sebuah pernikahan sejatinya penyatuan dua orang yang saling mencintai. Se-simpel dan sesederhana itu. Namun banyak orang yang lupa dengan tujuan utama sebuah pernikahan, dan malah fokus memenuhi keinginan dan ego yang dimilikinya.

Menikah di gedung megah
Mengundang ribuan tamu,
Menggunakan kartu undangan paling mahal,
Memberikan souvenir mewah,

Dan percaya atau tidak, tidak sedikit yang begitu memaksakan ingin mimpi pernikahannya terlaksana dengan sempurna. Hingga rela menggadaikan harga diri, berhutang kesana kemari untuk sebuah pesta satu hari. Ya, buat mereka pesta satu hari ini lebih penting daripada hidup kedepannya.

“Ya gapapa dong kalo gua mampu,
Kan gua yang punya duit”

Tentu saja, kalau kamu mampu untuk melaksanakannya silahkan lakukan. Tidak ada satupun orang yang melarang. Namun ini bukan soal mampu atau tidak, tapi soal manfaat atau tidak. Pernah mendengar asas-manfaat? Dengan menggunakan asas ini, kita akan tahu dan sadar apakah segala hal yang kita perbuat bermanfaat banyak untuk orang lain atau tidak. Bukankah lebih baik jika uang yang begitu banyak digunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat?

Mungkin tidak semua orang pernah merasakan hidup susah. Tidak punya uang, terlilit hutang, atau sekedar hidup pas-pasan. Mereka jadi tidak tahu bagaimana rasanya tercekik kelaparan, atau kelelahan berjalan pulang akibat tidak punya ongkos. Bukankah sebuah pernikahan akan lebih bermanfaat jika kita sisihkan untuk membantu orang lain? Keluarga terdekat misalnya?

Kalau merasa tidak bisa membantu orang lain, yasudah ditabung saja uang untuk pesta nya. Kamu dan pasangan akan menempuh hidup baru, dan tidak ada yang tahu akan berjalan semulus apa. Bukankah lebih baik ditabung untuk sesuatu yang lebih bermanfaat bagi keluarga kedepannya?

Intinya, kebanyakan pasangan yang akan menikah dan orang tuanya sudah lupa dengan tujuan utama dari sebuah pernikahan : menyatukan dua insan yang saling mencinta. Tidak ada embel-embel harus pesta megah, mewah dan meriah. Pertemukan, nikahkan. Sesederhana itu saja.

Jika sebuah pernikahan di awali dengan tujuan memenuhi gengsi, tentu cinta akan sulit berkembang. Apalagi jika sebuah pernikahan dilaksanakan dengan cara berhutang, pasti akan banyak gesekan konflik antara suami dan istri. Belum lagi dengan keluarga dan pihak yang berhutang, wah runyam pokoknya.

Karena inilah saya bilang budaya gengsi akan mematikan sebuah pernikahan mawaddah, yaitu pernikahan yang didasari oleh cinta. Mereka menilai gengsi lebih berat dari cinta, mengutamakan materi daripada fondasi utama sebuah pernikahan.

Cuman Butuh Cinta

http://www.modernlovelongdistance.com/wp-content/uploads/2014/11/money-and-love.jpg

“Cinta doang mah ga cukup. Emang mau ngasih makan bini lu apa? Pake cinta?

Pernah denger kalimat ini? Hampir semua orang mengatakan bahwa menikah tidak cukup hanya dengan cinta. Tapi menurut saya pribadi, pernikahan cuman butuh cinta. Cintalah yang menghidupkan dan menggerakan roda pernikahan, ibarat roda pada sebuah mobil. Mereka menganggap cinta ini sesuatu yang kecil, tidak terukur, dan tidak realitis.

Padahal, cuman karena cinta yang tulus seseorang dapat menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain. Cinta lah yang menjadi motivasi paling besar seseorang untuk bergerak dan bekerja, agar orang yang dicintainya selalu bahagia. Demi cinta seseorang rela melakukan apa saja yang bahkan kadang diluar nalarnya.

Cinta dengan seorang wanita? Ya harus di perjuangkan sesuai harapan dari sang wanita.
Cinta dengan istri? Ya harus giat bekerja biar sang istri tetap bahagia.
Cinta sama anak? Ya harus lebih keras bekerja biar kebutuhannya terpenuhi.

Semua hal yang berasal dari cinta akan berbuah kebaikan, dan kebaikan akan membuat orang lain menjadi bahagia. Kalau dalam sebuah pernikahan cinta dipandang lebih rendah dari kebutuhan material, matilah pernikahan tersebut. Bagaikan tubuh tanpa jiwa, pernikahan mereka akan berjalan kesana kemari tanpa arti.

Menikah cuman butuh cinta, karena cuman cinta pada pasangan yang dapat menggerakan semuanya. Cuman cinta, itu saja.

Share the Post

About the Author

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: